- 04/02/2026
Murita, S. Pd.
PEMANASAN global bukan lagi isu baru dalam diskursus global, namun hingga hari ini masih menjadi permasalahan yang hangat dan belum
terselesaikan.
Dampak perubahan iklim yang semakin nyata menunjukkan bahwa upaya penanganan pemanasan global membutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan.
Salah satu strategi penting dalam mengurangi laju pemanasan global adalah melalui peran aktif pemerintah pusat maupun daerah dalam mengintegrasikan kebijakan lingkungan ke dalam setiap program pembangunan sebagai bagian dari solusi bersama menghadapi krisis iklim.
Berdasarkan data hutan Indonesia pada tahun 2024-2025 berkisar 95,5 hingga 96 juta hektare, dengan data terbaru dari KLHK menunjukkan 95,5 juta hektare pada 2024 dan data FAO 2025 menyebut 95,97 juta hektare, menjadikannya terbesar di ASEAN.
Angka ini mencerminkan keseimbangan antara deforestasi bersih sekitar 175,4 ribu hektare (2024) dan program reforestasi, dengan pemerintah terus berupaya menjaga luasan hutan di tengah tantangan pembangunan.
Dengan demikian Indonesia bisa dikatakan sebagai bagian dari paru-paru dunia. Indonesia sampai saat ini menjadi sorotan dunia
atas kontribusi negara Indonesia dalam menjaga keseimbangan alam, terutama untuk mencegah bertambahnya global warning di dunia melalui berbagai kebijakan.
Kebijakan yang diambil selaras dengan arah dan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung
pembangunan berkelanjutan serta penguatan pendidikan lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya nasional menanggulangi dampak perubahan iklim.
Dalam konteks ini, melalui salah satu program unggulan Pemerintah Kota Pekanbaru yang
dipimpin oleh Bapak H. Agung Nugroho, S.E., M.M., telah dicanangkan visi menjadikan Kota Pekanbaru sebagai kota hijau (Green City).
Program ini diwujudkan melalui gerakan menanam satu juta pohon dan merawat pohon di setiap sudut kota Pekanbaru. Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh perangkat daerah,
termasuk satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota Pekanbaru, sebagai bentuk implementasi nyata kebijakan lingkungan dari tingkat pusat hingga daerah.
Mengapa sekolah dijadikan salah satu tempat untuk memulai program Green City di kota
Pekanbaru? Hal ini sejalan kerangka Pendidikan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) yang dikembangkan oleh UNESCO.
Dalam pandangan UNESCO, pendidikan berkelanjutan merupakan pendekatan Pendidikan yang holistik yang bertujuan membekali peserta didik dengan pengetahuan,
keterampilan, nilai, dan sikap yang diperlukan untuk berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi, baik pada level lokal maupun global.
Hal ini juga sesuai dengan teori Pendidikan sepanjang hayat, dimana peserta didik dibiasakan untuk terus belajar sepanjang hidupnya dengan salah satunya sadar menjaga dan melestarikan lingkungan.
Peserta didik diharapkan menjadi agen perubahan dalam memberdayakan dirinya untuk memecahkan masalah seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan ketimpangan. Melihat dari keadaan yang ada di sekitar, peserta didik diajak untuk memperhatikan dan menjaga lingkungan
tempat mereka berada.
Hal ini sejalan dengan pembelajaran kontekstual di mana peserta didik diajak menganalisis kehidupan nyata sehari-hari yaitu dengan
melihat keadaan lingkungan sekitar dan juga iklim yang dirasakan pada saat ini yang bagian dari efek global warming sendiri itu yang sangat mempengaruhi terhadap siklus cuaca yang ada sekarang yaitu adanya cuaca ekstrem seperti musim penghujan maupun musim kemarau.
Berdasarkan fenomena tersebut, sekolah merupakan ruang yang paling tepat dan strategis untuk dijadikan sebagai tempat pertama dalam mempelajari, memahami, serta menanamkan kesadaran tentang cara menjaga kelestarian lingkungan.
Peran sekolah tidak hanya sebatas transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap dan perilaku ramah lingkungan sejak dini. Hal ini sejalan dengan instruksi Wali Kota Pekanbaru yang menegaskan pentingnya keterlibatan satuan pendidikan dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama menghadapi persoalan pemanasan global.
Maka dengan adanya program Green City disekolah menjadi pelopor untuk menjadikan kota Pekanbaru menjadi kota hijau yang indah dan Lestari.
Adapun program Green City yang dilakukan disekolah yang ada di kota Pekanbaru yaitu SMP Negeri 22 Pekanbaru bahwa setiap peserta didik maupun pendidik diwajibkan untuk membawa dan menjaga satu pohon atau tanaman yang akan dirawat di sekolah sampai berhasil.
Pembiasaan ini menjadi hal yang penting karena
dengan adanya pembiasaan ini diharapkan peserta didik dapat memahami tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sebagai wujud tanggungjawab dan kemandirian untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
Program Green City di sekolah tidak berdiri sebagai kegiatan tambahan atau proyek
insidental, melainkan idealnya terintegrasi dalam budaya sekolah, kebijakan, dan praktik pembelajaran lintas mata pelajaran.
Dengan demikian, sekolah berfungsi sebagai miniatur kota berkelanjutan, tempat peserta didik belajar bagaimana menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya.
Dengan demikian, Program Green City di SMP Negeri 22 Pekanbaru dapat dipahami sebagai implementasi konkret teori Pendidikan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development) yang dikembangkan dan dipromosikan oleh UNESCO dalam konteks pendidikan menengah.
Program ini berpotensi membentuk peserta
didik yang memiliki kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta kemampuan
berpikir berkelanjutan. Tantangan terbesarnya bukan pada konsep, melainkan pada
komitmen sekolah untuk menjaga agar nilai-nilai keberlanjutan tersebut terus hidup dalam praktik pendidikan sehari-hari. ***