VOXOpini

Siapkah Guru dan Siswa SMP Menghadapi Pembelajaran Digital di Era Kecerdasan Buatan?

Oleh : Yelvina oza, S. Pd. , Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning.
Senin, 26 Januari 2026 21:48 WIB
Yelvina oza, S. Pd.

PERKEMBANGAN teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini
bergerak lebih cepat daripada kesiapan dunia pendidikan menghadapinya. Sekolah-sekolah didorong untuk beradaptasi, menggunakan perangkat digital, memanfaatkan platform pembelajaran daring, hingga mulai bersentuhan dengan kecerdasan buatan.

Namun, di balik euforia digitalisasi pendidikan, muncul pertanyaan mendasar yang sering luput dibahas: apakah guru dan siswa benar-benar siap, atau sekadar ikut arus perubahan?

Pertanyaan ini relevan untuk diajukan dalam konteks pembelajaran di Sekolah Menengah
Pertama. Seperti banyak sekolah lainnya, di sekolah menengah pertama telah mengenal penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Gawai, internet, dan media digital bukan lagi hal asing.

Namun, kehadiran teknologi belum tentu berbanding lurus dengan kesiapan pedagogis dan literasi digital yang memadai.

Dalam kajian teori pendidikan, khususnya konstruktivisme yang dikembangkan oleh Jean
Piaget dan Lev Vygotsky, belajar dipahami sebagai proses aktif. Peserta didik membangun pengetahuannya melalui pengalaman, interaksi, dan refleksi.

Teknologi digital dan AI, jika diletakkan dalam kerangka ini, seharusnya menjadi alat bantu yang memperkaya proses belajar. Teknologi bukan sekadar alat menyampaikan materi, tetapi sarana untuk mendorong eksplorasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.

Namun, realitas di sekolah sering menunjukkan hal yang berbeda. Di Sekolah Menengah Pertama, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran masih didominasi oleh penggunaan media presentasi, pencarian materi dari internet, serta pengumpulan tugas secara daring.

Teknologi hadir di ruang kelas, tetapi lebih sering berfungsi sebagai pengganti papan tulis, bukan sebagai pendorong perubahan cara belajar. Pembelajaran masih berpusat pada guru, sementara teknologi hanya mempercepat penyampaian materi.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori pendidikan dan praktik di lapangan. Sekolah sudah memasuki era digital secara teknis, tetapi belum sepenuhnya secara pedagogis. Padahal, pendidikan di era digital menuntut perubahan paradigma, bukan sekadar perubahan alat.

Dari sisi siswa, tantangan lain muncul pada aspek literasi digital. UNESCO menegaskan bahwa literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Dalam praktiknya, banyak siswa yang sangat akrab dengan gawai, tetapi belum memiliki
kecakapan untuk memilah informasi yang valid, menghindari misinformasi, serta menggunakan teknologi untuk tujuan akademik.

Tantangan ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan. AI menawarkan berbagai peluang dalam dunia pendidikan, mulai dari akses sumber belajar yang luas, personalisasi pembelajaran, hingga efisiensi dalam penilaian.

Namun, berbagai kajian etika pendidikan juga mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa
pendampingan pedagogis dapat melemahkan proses berpikir peserta didik. AI berisiko digunakan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas, sehingga proses belajar dan nilai kejujuran akademik terabaikan.

Dalam situasi ini, peran guru menjadi sangat krusial. OECD menekankan bahwa di era digital, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi. Guru bertransformasi menjadi fasilitator, pembimbing, dan penjaga nilai-nilai pendidikan. Guru diharapkan mampu mengarahkan siswa dalam memanfaatkan teknologi dan AI secara produktif, kritis, dan beretika.

Namun, tuntutan ini tidak ringan. Di lapangan, termasuk di Sekolah Menengah Pertama, guru masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan pelatihan, beban administratif, serta minimnya pengembangan profesional berkelanjutan.

Guru dituntut untuk adaptif terhadap teknologi, tetapi sering kali tanpa dukungan yang memadai. Akibatnya, teknologi digunakan sebatas kemampuan yang tersedia, bukan berdasarkan potensi pedagogisnya.

Penutup

Pembelajaran digital di era kecerdasan buatan menuntut kesiapan yang jauh melampaui kemampuan teknis menggunakan perangkat. Guru dan siswa perlu dibekali pemahaman pedagogis dan etis agar teknologi benar-benar berfungsi sebagai sarana pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar alat praktis yang mempercepat pekerjaan tanpa memperdalam pemahaman.

Dalam konteks Sekolah Menengah Pertama, tantangan utama bukan terletak pada kehadiran teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana teknologi dimaknai dan digunakan dalam proses belajar mengajar.

Jika pendidikan ingin tetap relevan di tengah laju perkembangan teknologi dan AI, sekolah perlu menggeser paradigma dari sekadar adaptasi digital menuju transformasi pembelajaran.

Guru perlu didukung untuk berperan sebagai fasilitator pembelajaran digital yang reflektif, sementara siswa perlu diarahkan agar menjadi pengguna teknologi yang kritis, bertanggung jawab, dan beretika.

Tanpa upaya tersebut, teknologi dan kecerdasan buatan hanya akan menjadi simbol kemajuan semu yang tidak menyentuh esensi pendidikan, yaitu membentuk manusia yang berpikir, bernilai, dan berkarakter. ***

Rujukan Teoretis
1. Pemikiran dalam tulisan ini berpijak pada teori konstruktivisme Jean Piaget dan Lev Vygotsky yang menekankan bahwa belajar merupakan proses aktif melalui pengalaman dan interaksi sosial. Perspektif ini menjadi dasar pemanfaatan teknologi digital sebagai alat bantu pembelajaran bermakna.
2. Konsep literasi digital mengacu pada pandangan UNESCO yang menegaskan bahwa
literasi digital mencakup keterampilan teknis, kemampuan berpikir kritis, etika penggunaan teknologi, dan tanggung jawab dalam mengelola informasi.
3. Perubahan peran guru di era digital merujuk pada kajian OECD tentang pendidikan abad
ke-21 yang menempatkan guru sebagai fasilitator, pembimbing, dan penjaga
nilai-nilai pendidikan.

Pembelajaran digital kesiapan guru dan siswa SMP kecerdasan buatan VOXindonews Lazada Shopee