- 15/03/2026
Pengelola SPPG Insan Kamil Indragiri, Tanjung Gading, Airmolek, Inhu, buka puasa bersama untuk mempererat tali silaturahmi.
AIRMOLEK (VOXindonews) - Banyaknya pro dan kontra mengenai Makanan Bergizi Gratis (MBG) di tanah air membuat program pemerintah mendapat tantangan. Diakui program yang dimulai setahun ini banyak begitu tanggapan mulai masyarakat kecil, wali murid sampai pejabat dan anggota dewan sendiri.
Sebenarnya program yang dikucurkan kalau dijalankan sesuai aturan yang diberlakukan pemerintah merupakan program yang baik dan dapat membantu siswa yang kurang mampu. Tapi masih banyak pelaku yang kurang amanah sehingga SPPG yang benar benar mengikuti SOP kena getahnya.
SPPG Insan Kamil Indragiri, Tanjung Gading Airmolek yang sudah membuka pelayanan sejak 25 Agustus 2025 dengan 1.720 porsi, juga mengalami berbagai kritikan.
Ketua SPPG Insan Kamil Indragiri, Tanjung Gading, Airmolek, Melisa Febriani kepada VOXindonews, Sabtu (14/3/2026) menjelaskan bagaimana sulit mengelola MBG ini. Masyarakat sampai sekarang masih belum menerima.
Dia mengakui sejak pendidikan di Jakarta dulu sudah disampaikan berbagai tantangan yang akan dihadapi. Program ini jelas masih belum bisa diterima sebagian masyarakat.
Selama delapan bulan sampai sekarang MBG yang dipimpinnya sudah memberikan pemanfaatan sampai 3.300 siswa dari SD, SMP, SMK dan juga ibu hamil dan menyusui. "Kita sudah over pemanfaatan. Karena maksimal 2.500 sekarang sudah diatas 3.000 porsi", ujar Melisa.
Melisa juga mengisahkan mulai dari relawan yang berjumlah 47 orang ditambah tiga orang staf SPPG dan asisten lapangan. Ada juga pengawas dari yayasan.
Sekarang mereka mendapatkan pekerjaan yang layak. Selama ini apalagi para janda yang berjumlah 10 orang merasakan sekali manfaat dari MBG. Mereka dapat upah yang layak dan juga bisa membawa makanan jika berlebih.
Begitu juga kerjasama dengan jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) SMKN 1 Pasir Penyu, Airmolek. SPPG Tanjung Gading beberapa kali membeli roti buatan anak anak SMK ini. Sudah hampir 9000 buah roti yang dibeli untuk pemanfaatan MBG.
Sebenarnya, kata Melisa, ini yang diharapkan sehingga siswa SMK yang belajar sudah punya penghasilan untuk sekolah dan juga siswa. Kalau enam SPPG saja membeli roti hasil karya mereka maka berapa ribu produksinya per pekan.
Sayangnya kerjasama ini belum maksimal dimanfaatkan. Begitu juga jurusan pertanian bisa memenuhi MBG dengan jagung, sayur buah, maka berapa hasil yang didapat. Tapi sekali lagi ini dimanfaatkan oleh petani Sumbar. Belum lagi telur yang selalu kekurangan.
Anggota DPR RI H Yulisman ketika reses di Kelurahan Tanjung Gading Airmolek juga meminta masyarakat mendukung program MBG. Ini adalah program pemerintah untuk membantu siswa tidak mampu.
Diakui H Yulisman memang ada beberapa daerah tidak menerima MBG, tapi daerah lain yang ekonomi sulit mereka sangat membutuhkan MBG ini.
Bagi ada pihak yang kontra itu hal biasa. Karena setiap program tidak mungkin langsung mulus diterima masyarakat.
H Yulisman juga menyampaikan pendirian koperasi Merah Putih di setiap desa dan kelurahan. "Saya lihat juga masih ada yang setuju dan tidak. Padahal nanti hasil pertanian, suplai bahan baku ke MBG melalui koperasi. Sehingga ekonomi berjalan mulai dari petani, pedagang", tegas H Yulisman.
Ketua Yayasan Insan Kamil Indragiri, Deki Ersanda memaparkan bagaimana sulitnya meyakinkan investor mengelola MBG ini. Semua yang dihubungi menolak dan tidak yakin dengan MBG.
Tapi sekarang untuk menambah titik baru pendirian MBG tidak mudah lagi. Harus banyak syarat yang dilalui. Karena itu ada yang bermasalah karena dari awal diberikan kemudahan dan urusan kelayakan dapat menyusul.
Sekarang tidak boleh lagi memberikan izin sebelum ada uji kelayakan kesehatan sanitasi dan lingkungan.
Deki berharap sesama pengelola MBG dapat bekerja dengan baik dan mengikuti petunjuk teknis yang ada.(YHN)
SPPG Insan Kamil Indragiri pengelola MBG di Airmolek gunakan karya anak SMKN VOXindonews Lazada Shopee