- 22/07/2026
Mahasiswa KKN Unri mengajari biopori kepada warga Desa Ketam Putih, Kabupaten Bengkalis.
BENGKALIS (VOXindonews) – Lahan cabai milik warga Desa Ketam Putih, Kecamatan
Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, selama ini kerap tergenang setiap kali hujan turun. Kondisi tersebut lambat laun menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan
hasil panen petani setempat.
Menjawab persoalan ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Riau menggelar sosialisasi sekaligus praktik
pembuatan lubang biopori di lahan milik BUMDes, Jalan Simpang Tiga, Dusun II,
pada Jumat (27/6/2026).
Kegiatan berlangsung pukul 16.00 hingga 18.00 WIB dan menjadi salah satu program kerja
kelompok dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rina Susanti, S. Sis, M. Si.
Kelompok KKN Desa Ketam Putih beranggotakan sepuluh mahasiswa lintas program studi. Muhammad Ilham Baihaqi dari Sosiologi bertindak sebagai ketua kelompok,
didampingi Ilma Hayati Dhilla dari Bimbingan dan Konseling serta Syifa Salsabila dari Fisika yang menjabat sekretaris. Eva Wulandari dari Pendidikan Ekonomi mengisi posisi koordinator lapangan.
Sementara Annisa Meilanda dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Rizki Nabila dari Ilmu Kelautan menangani urusan keuangan. Wahyu Alam Syah dari Agroteknologi dan Siti Nur Fadilah dari Pendidikan Masyarakat bertugas di bidang hubungan masyarakat,
sedangkan dokumentasi kegiatan dipegang Luthfia Putri dari Ilmu Kelautan dan Andre Yunadi Hadidi Simamora dari Teknologi Hasil Perikanan.
Sekitar sepuluh warga hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan BUMDes, Syam Khafazul Khair. Ia menyambut baik kedatangan mahasiswa yang mau turun langsung ke lahan
warga.
"Kami senang ada mahasiswa yang mau turun langsung ke lahan dan mengajak warga praktik bareng. Kalau biopori ini memang cocok dengan kondisi tanah di sini, bisa jadi solusi jangka panjang buat petani," ujar Syam Khafazul Khair.
Sebelum praktik dimulai, mahasiswa lebih dulu menjelaskan konsep dasar biopori kepada warga yang hadir. Biopori sendiri merupakan lubang resapan air yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah, biasanya berdiameter 10 hingga 15 sentimeter dengan kedalaman sekitar satu meter.
Sampah organik yang dimasukkan ke dalamnya
perlahan berubah menjadi kompos, sementara rongga yang terbentuk mempercepat air meresap sebelum sempat menggenang di permukaan tanah. Metode ini banyak dipilih karena murah dan bisa dikerjakan sendiri oleh warga, tanpa perlu alat berat maupun biaya besar.
Usai pemaparan materi, praktik lapangan pun dikerjakan. Satu lubang percontohan dibuat lebih dulu, kemudian ditambah tiga lubang lagi untuk uji coba selanjutnya. Pengerjaannya memakai linggis, dan dodos, dengan pipa PVC ukuran 3 sampai 4 inci sebagai pelapis lubang. Sampah yang dimasukkan berasal dari bahan yang tersedia di sekitar lokasi saat itu juga, seperti daun cabai kering, sisa sayuran, dan rumput liar bekas babatan.
Ketua kelompok, Muhammad Ilham Baihaqi, berharap biopori yang sudah dipraktikkan tidak berhenti begitu saja setelah kegiatan usai.
"Kami berharap warga bisa merawat dan menambah sendiri lubang biopori ini ke depannya. Kalau memang efektif mengurangi genangan, dampaknya bisa langsung dirasakan petani cabai di sini," kata Muhammad Ilham Baihaqi.
Sesi tanya jawab berjalan cukup ramai. Pak Oji, salah satu warga, menilai program ini punya
potensi besar untuk terus dikembangkan mengingat lahan cabai ini memang
langganan tergenang saat hujan turun.
"Ini sangat bermanfaat dan idenya cukup bagus, masih bisa dikembangkan lagi. Lahan yang sering tergenang kan mengganggu pertumbuhan dan produktivitas cabai. Ke
depannya mudah-mudahan bisa sama-sama kita kembangkan biopori ini supaya lahan
terjaga dari genangan air," ungkap Pak Oji.
Ia menanyakan arah aliran air pada bedengan yang tergenang, sekaligus berapa jumlah lubang
biopori yang idealnya dibutuhkan untuk satu bedengan. Mahasiswa KKN menjawab bahwa air pada dasarnya mengalir dari titik yang lebih tinggi ke titik yang lebih rendah, sehingga lubang biopori sebaiknya ditempatkan di area yang lebih rendah atau di jalur drainase antar bedengan, bukan di tengah bedengan itu
sendiri.
Soal jumlah lubang, jawabannya tidak bisa dipastikan dari awal. Perlu dicoba bertahap, misalnya tiga lubang dulu pada minggu pertama, kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat apakah lubang itu sudah efektif atau belum.
Pertanyaan lain datang dari Pak Fazul, yang penasaran apakah lubang bisa dibuat lebih dalam dan apakah diameternya berpengaruh pada daya serap air.
''Saya kepikiran, kalau lubangnya dibuat lebih dalam, apa hasilnya beda? Terus tanah di sini kan macam-macam jenisnya, apa itu juga berpengaruh ke resapan airnya?" tanya
Pak Fazul.
Menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa diameter ideal biopori
berkisar 10 sampai 15 sentimeter, setara pipa PVC 4 sampai 6 inci, meski di lapangan pipa 4 inci lebih sering dipakai karena harganya lebih terjangkau dan cukup efektif. Jenis tanah pun ikut menentukan hasil resapan. Tanah gambut,
misalnya, punya kepadatan lebih rendah sehingga air jauh lebih cepat meresap
dibanding tanah liat atau tanah padat lainnya.
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi berupa foto sosialisasi dan praktik pengeboran tanah, serta daftar hadir peserta yang dilampirkan sebagai bagian dari laporan program kerja
kelompok.
Ke depannya, seluruh anggota KKN Desa Ketam Putih berharap biopori yang sudah dibuat bisa terus dipantau dan dirawat warga secara mandiri, sehingga manfaatnya benar-benar terasa, bukan sekadar kegiatan yang berhenti begitu masa KKN selesai. (FJ/Rls)
KKN Unri 2026 Desa Ketam biopori Bengkalis VOXindonees Lazada Shopee